Friday, April 26, 2013

Karakteristik Novel "Azab dan sengsara" dan "Belenggu"



                                  UNTUK MEMENUHI TUGAS BAHASA INDONESIA


Judul Novel   : Azab dan Sengsara
Karya           : Merari Siregar
Penerbit        : Balai Pustaka
Angkatan      : 20-An

Novel AZAB DAN SENGSARA ini merupakan novel pertama terbitan BALAI PUSTAKA yang pertama sekali, yaitu sekitar tahun 1920. Novel yang bertemakan kawin paksa ini dikarang oleh Merari Siregar. Sepertinya penulis sangat menonjolkan suatu kesengsaraan dalam karya ini, sehingga si pembaca dapat terbawa oleh alur cerita ini. Penulis juga mengangkat adat istiadat yang berlaku di daerahnya.

Karakter Tokoh :
- Mariamin
- Aminu’ddin
- Sutan Baringin (Ayah Mariamin)
- Nuria (Ibu Mariamin)
- Baginda Mulia
- Baginda Diatas (Ayah Aminu’ddin)
- Ibu Aminu’ddin
- Kasibuan

SINOPSIS

Di sebuah kota kecil, Sipirok yang berada di wilayah Tapanuli pada Pegunungan Bukit Barisan terdapat sebuah keluarga. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ibu yang sudah janda, bernama Nuriah. Dia memiliki dua orang anak. Anak pertama seorang gadis, Mariamin yang memiliki paras cantik dan berbudi pekerti halus. Anak kedua laki-laki yang berusia empat tahun. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil dekat Sungai Sipirok. Mereka hidup bertiga penuh kesengsaraan dan kesedihan. Semua dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, tidak pernah mengeluh dan putus asa. Semua permasalahan hidupnya diserahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Kisah sedihnya bermula setelah kematian ayahnya Sutan Barigin. Sebelum ayahnya meninggal kehidupan mereka berada dalam kecukupan, tak kurang suatu apa pun. Rumah bagus, sawah yang luas, binatang ternak juga banyak. Semua harta yang banyak itu akhirnya lenyap habis. Harta yang habis itu diakibatkan oleh perilaku Sutan Barigin itu sendiri. Sutan barigin memiliki sifat tamak, rakus, keras kepala, tidak peduli pada istri serta mudah kena hasutan orang lain. Harta warisan yang seharusnya dibagikan kepada saudara yang berbeda nenek yaitu Baginda Mulia, Sutan Barigin tidak mau membaginya. Atas hasutan Marah Sait, Sutan Barigin malah memperkarakannya ke pengadilan. Yang paling keji Sutan Barigin tidak mau mengaku saudara pada Baginda Mulia. Sebenarnya Baginda Mulia mengajak berdamai saja, berapapun harta warisan yang akan diberikan Sutan Barigin kepadanya akan ia terima. Sutan Barigin tetap tidak mau dan ingin memperkarakan saja.
Sidang perkara warisan di gelar di Sipirok, semua biaya ditanggung oleh Sutan Barigin. Sutan Barigin kalah karena Baginda Mulia adalah saudara Barigin dan berhak separuh atas warisan neneknya. Sutan Barigin naik banding lagi ke pengadilan yang lebih tinggi di Padang. Untuk perkara perlu biaya yang besar, sawah dan ternak terjual habis. Yang untung adalah Marah Sait mendapat jatah uang juga dari Sutan Barigin. Sedangkan perkara dimenangkan oleh Baginda Mulia. Perkara dilanjutkan ke Jakarta, biaya lebih besar lagi. Sutan Barigin tetap kalah sampai akhirnya barulah ia sadar dan menyesal tidak mau menerima saran istri dan Baginda Mulia untuk berdamai. Sesal kemudian tidak berguna. Kesengsaraan dan kemalaratan saja yang dierima Sutan Barigin dan anak keluarga ikut menanggung azab dan sengsara. Sampai pada nasib terakhir Sutan Barigin terkena penyakit sampai akhirnya Tuhan mengambil nyawa orang yang tamak itu.
Kesedihan Mariamin disusul oleh kepergian kekasihnya Aminuddin ke kota Medan, hingga hancurlah semua cita-cita dan harapan yang telah terbina sejak lama. Di Medan Aminuddin bekerja di perkebunan tembakau. Ia mencoba menyurati Mariamin. Bahkan dalam suratnya mengatakan hendak meminang Mariamin untuk dijadikan istrinya.
Aminuddin menyuruh ayahnya agar melamar Mariamin. Tapi ayah Aminuddin malah membawa perempuan lain ke Medan dengan alasan Mariamin bukan jodoh Aminuddin. Pendapat itu bersumber dari seorang dukun yang dimintai pendapat ayah Aminuddin. Dengan sangat terpaksa, kecewa, dan menyesal Aminuddin menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya karena cintanya hanya kepada Mariamin. Rasa bersalah pada Mariamin ia sampaikan lewat surat serta permohonan ma’af kepada keluarganya. Semua itu bukan kehendak Aminudin untuk meninggalkan Mariamin.
Di Sipirok Mariamin menikah dengan Kasibun atas anjuran ibunya. Kasibun seorang laki-laki hidung belang yang mengidap penyakit kelamin. Mariamin di bawa juga ke Medan oleh Kasibun. Di Medan Mariamin sempat bertemu dengan Aminudin. Di Medan pula ia merasakan penyiksaan dari Kasibun karena ia selalu menolak hasrat berahinya. Mariamin takut penyakit Kasibun menular kepadanya.
Tidak kuat dengan siksaan Kasibun, Mariamin pergi meninggalkan Medan dan pulang kembali ke Sipirok. Di Sipirok inilah berakhirnya penderitaan dan kesengsaraan Mariamin. Akhirnya Mariamin meninggal dunia untuk mengakhiri azab dan kesengsaraan di dunia yang fana ini.

(A)Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.

1. Menikahkan anak secara paksa (jodoh dipilihkan orang tua)
    Aminudin dijodohkan dengan wanita bukan pilihannya
2. Harta merupakan pertimbangan dalam menjodohkan anak
    Mariamin berasal dari keluarga kurang mampu maka ditolak oleh keluarga Aminudin.
3. Poligami (laki-laki dengan istri lebih dari satu)
    Kasibun mengku perjaka ternyata telah beristri, dan Mariamin dijadikan isteri kedua.
4. Kebiasaan minum dan berjudi
    Sutan Baringin ayah Mariamin menjadi bangkrut karena kebiasaan berjudi dan minum.

(B) Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.

1. Anak sangat berbakti kepada orang tuanya
 Aminudin tak mencintai wanita pilihan orang tuanya namun tak berani menolak karena baktinya kepada orang tuanya.
2. Isteri sangat taat kepada suaminya
 Meskipun Mariamin ditipu oleh Kasibun yang mengaku perjaka, ia tetap berbakti kepada suaminya.

(C)Karater Tokoh yang bisa ditemukan pada novel "Azab dan Sengsara" sebagai berikut.

-Mariamin :
seorang gadis yang cantik, lemah lembut, berbakti kepada orang tua dan baik hati. Karakter baik hati dan berbakti kepada orang tua dapat dilihat dari penggalan percakapan, “Makanlah Mak dahulu, nasi sudah masak,” kata Mariamin seraya mengatur makanan dan sajur jang dibawanja sendiri dari gunung untuk ibunja yang sakit itu.

-Aminu’ddin: 
seorang anak yang berbudi pekerti luhur sopan santun, suka menolong, berbakti dan sangat pintar. Berbudi pekerti luhur, jiwa penolng Aminudin dapat dilihat dari penggalan dialog : “Ia menolong mencangkul sawah Mak Mariamin.. Udin mempunyai kasihan, itulah sebabnya ia menolong mamaknya.” Mendengar itu, suaminya tinggal diam; Ia tiada marah mendengar umpatan itu.

-Sutan Baringin :
seorang yang suka membuat masalah dan takabur dengan hartanya. Watak tidak baiknya itu dapat dilihat dari penarasian penulis sebagaimana berikut ini ; Sutan Baringin terbilang hartawan lagi bangsawan seantero penduduk sipirok. Akan tetapi karena ia sangat suka berperkara, maka harta yang banyak itu habis, sawah dan kerbau terjual, akan penutup ongkos-ongkos perkara, akhir-akhir jatuh miskin, sedang yang dicarinya dalam perkara itu tiada seberapa bila dibandingkan dengan kerugian-kerugiannya.

-Nuria:
seorang penyayang dan baik hati. Wujud kasih sayang itu sebagaimana dapat dilihat dari penggalan dialog berikut ini ; “Anakku sudah makan?” bertanya si ibu seraya menarik tangan budak itu, lalu dipeluknya dan diciumnya berulang-ulang.

Baginda Diatas:
seorang kepala kampung atau bangsawan yang kaya raya dan disegani serta dihormati. Hal itu dibuktikan dengan penggalan narasi langsung dari penulis sebagai berikut ; “Dia (Aminudin) adalah anak kepala kampung A. Ayah Aminu’ddin seorang kepala kampung yang terkenal di seantero Sipirok. Harta bendanya sangat banyak”.

-Ibu Aminu’ddin:
mempunyai sifat yang sama seperti suaminya Baginda Diatas, dia juga penyayang.

(D)TEMA
Berkisar masalah adat Dijodohkan oleh orang tua Dan Tidak selamanya kebahagiaan dapat diperoleh dengan mudah harus ada.

Judul Novel : BELEGGU

Karya        : Armijin Pane
Penerbit     : Pujangga Baru
Angkatan   : 30-An

inilah yang ditakutkan dalam kehidupan sesorang, manakala membangun rumah tangga tanpa didasari cinta antara suami isteri. Karena tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur, tidak saling berbicara dan bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersama – sama sebagaimana layaknya suami istri.
Masing – masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri, sering salah paham dan sukar bertengkar.
Itulah sebabnya, banyak dimasyarakat untuk menghidari kawin paksa, kawin karena dijodohkan dan kawin tanpa dasar cinta. Karena kalau perkawinan tanpa dasar cinta akan membentuk keluarga yang tidak harmonis dan tidak bahagia. Dan orang akan menghindari hal ini sejauh-jauhnya.

Tokoh dalam Novel :
- Dokter Sukartono (Tono)
- Sumartini (Tini)
- Siti Rohayah (Yah)
- Karno
- Putri Aminah
- Nyonya Rusdio
- Hartono
- Mangunsucipto

SINOPSIS

          Dokter sukartono menikah dengan seorang perempuan berparas ayu, pintar serta lincah.Perempuan itu bernama Sumartini dengan panggilan Tini. Sebenarnya Dokter Sukartono tidak mencintai Sumartini. Begitu juga sebaliknya dengan Tini, ia tidak mencintai Dokter Sukartono. Mereka menikah berdua dengan membawa alas an masing-masing. Dokter Sukartono menikahi Sumartini karenake cantikan, kecerdasan serta kelincahan yang dimilikinya.Menurut pikiran Dokter Sukartono perempuan yang cocok untuk mendampinginya sebagai seorang dokter adalah Sumartini.Sumartini sendiri menikahi DokterSukartono, karena dia hendak melenyapkan sejarah masa silamnya.Dia berpendapat menikah dengan seorang dokter, maka besar kemungkinan dia berhasil melupakan masa lalunya yang kelam. Jadi keduanya tidak saling mencintai. Keduanya mempunyai alas an masing-masing mengapa mereka sampai jadi menikah. Karena mereka tidak saling mencintai, mereka berdua juga tidak pernah akrab. Dokter Sukartono dengan Sumartini jarang sekali bertukar pikiran atau berbicara. Masalah yang mereka hadapi masing-masing tidak pernah mereka usahakan dipecahkan secara bersama-sama layaknya suami-istri. Masing-masing memecahkan masalahnya dengan sendiri-sendiri. Karena hal itu, keluarga ini tidak harmonis dan terasa hambar, mereka sering salah paham dan suka bertengkar.Ketidak harmonisan keluarga ini semankin menjadi-jadi sebab, Dokter Sukartono sangat bertangung jawab dan mencintai pekerjaannya sebagai seorang dokter. Dia bekerja menolong orang tanpa mengenal waktu. Jam berapapun pasien yang membutuhkan pertolongannya, Dokter Sukartono dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, Dokter Sukartono melupakan kehidupan rumah tangganya sendiri. Dia sering meninggalkan istrinya sendiridi rumah. Dia betul-betul tidak punya waktu lagi untuk mengurus istrinya Tini.Dokter Sukartono begitu dipuja dan dicintai oleh pasien-pasienya. Dia tidak hanya suka menolong kapanpun waktunya orang butuh pertolongan, tapi dia juga tidak meminta bayaran kepada pasiennya yang kebetulan tidak punya uang. Itulah sebabnya Dokter Sukartono sangat terkenal sebagai seorang dokteryang sangat dermawan. Akan tetapi kesibukan Dokter Sukartonoyang demikian tak kenal siang maupun malam itu, semankin memicu percekcokan dalam rumah tangganya sendiri.Dokter sukartono menurut Sumartini sangat egois. Sumartini merasa disepelekan. Dia bosan terus sendirian, karena ditinggalkan Dokter Sukartono yang selalu sibuk menolong pasien-pasienya.Sumartini merasaka dirinya telah dilupakan dan merasa bahwaderajat serta martabatnya sebagai seorang perempuan telahdiinjak-injak Dokter Sukartono. Haknya dan derajatnya sebagaiseorang perempuan telah dilalaikan oleh Dokter Sukartono.Sumartini menuntut haknya sebagai seorang perempuan.Karena merasa haknya sebagai seorang perempuan itu tidak mampu dipenuhi oleh suaminya Dokter Sukartono. Hampir tiap hari mereka berdua bertengkar. Masing-msing tidak ada yang mau mengalah. Keduanya saling ngotot dan merasa paling benar.Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seseorang yang mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu memintak Dokter Sukartono datang ke hotel tempat wanita itumenginap. Setelah mendapat panggilan itu, Dokter Sukartono pergi ke hotel itu, dan terkejut bahwa pasien yang memanggilnya itu tidak lain adalah Yah atau Rohayah.Dokter Sukartono sudah lama kenal dengan Rohayah. Diasudah kenal sejak kecil, sewaktu masih bersekolah di sekolahrakyat. Rohayah adalah teman sekelasnya.Yah waktu itu sudahmenjadi seorang janda. Dia korban kawin paksa karena tidaksangup hidup dengan suami pemberian orang tuanya, Rohayah kemudian melarikan diri ke Jakarta. Dia di Jakarta terjun ke dunianista yaitu menjadi wanita panggilan.Rohayah sendiri sebenarnya secara diam-diam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayal Dokter Sukartono itu adalah suaminya. Itulah sebabnya secara diam-diam pula dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah ketemu,Rohayah langsung menghubungi Dokter Sukartono. Ia pura-purasakit, agar Dokter Sukartono mau datang. Karena Rohayah sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga Ia langsung mengoda Dokter Sukartono. Rohayah sangat ahli dalam mengodadan merayu laki-laki.Pada waktu pertama kali datang ke hotel tempat dia menginap, Dokter Sukartono tidak begitu tergoda oleh rayuanRohayah, tetapi karena Rohayah sering meminta Dokter Sukartonodatang ke hotel untuk menyembuhkan penyakitnya, Dokter Sukartono lama kelamaan tergoda juga. Rohayah sangat pintarmemberi kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh Dokter Sukartono. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan ini dengan Sumartini istrinya di rumah. Akibatnya , karena dirumah tidak pernah merasa tenteram karena terus bertengkar dengan istrinya,maka Dokter Sukartono sering menggunjungi Rohayah.Hotel tempat Rohayah menginap itu, dirasakan oleh Dokter Sukartono sudah tak ubah rumah kedua. Lama-kelamaan hubunganRohayah dan Sukartno ini, akhirnya di ketahui juga oleh Sumartini.Betapa panas hati Sumartini mendengar hubungan gelap suaminya dengan seorang wanita yang bernama Rohayah itu. Betapa ingin dirinya melabrak wanita yang bernama Rohayah itu. Secara diam-diam Sumartini pergi ke hotel tempat Rohayah menginap dengan membawa segudang kekesalan dan dendam pada Rohayah. Dia hendak mengatai Rohayah habis-habisan karena telah mengambil dan menggangu suami orang,. Akan tetapi setelah ia bertatap dengan Rohayah, Sumartini menjadi luluh.Sedalam kebencian dan nafsu marahnya pada Rohayah tiba-tiba lenyap. Rohayah yang dianggapnya sebelumnya adalah seorang wanita jalang, teryata adalah seorang wanita yang lembut dan penuh keramahan. Sumartini menjadi malu pada Rohayah. Dia merasa selama ini, telah bersalah pada Dokter Sukartono. Dia tidak bisa menjadi seorang istri yang didambakan oleh Dokter Sukartono suaminya selama ini.Sepulang pertemuanya dengan Rohayah, Sumartini mulai berpikir kembali tentang dirinya. Dia merasa malu dan bersalahpada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah menberi kasih sayang yang lembut pada suaminya. Selama ini ia selalu kasar padasuaminya dan dan merasa bahwa ia telah gagal menjadi seorangistri. Akhirnya Tini memutuskan akan memilih pisah dengan Dokter Sukartono.Permintaan Sumartini istrinya untuk berpisah diterima dengan berat oleh Sukartono. Bagaimanapun Sukartono tidak mengharapakan terjadinya perceraian antara mereka. Dokter Sukartono pun telah mintak maaf pada Sumartini. Dia telah merubah tingkah lakunya, namun keputusan Sumartini sudah bulat.Dokter Sukartono tidak mampu menahanya dan akhirnya mereka bercerai. Sangat sedih hati Sukartono bercerai dengan Sumartini. Tambah sedih lagi hati Dokter Sukartono, sebab ternyata Rohayah juga pergi. Rohayah hanya meninggalkan sepucuk surat, yang mengabarkan bahwa dia mencintai Dokter Sukartono dan Rohayah juga mengabarkan bahwa ia meninggalkan tanah air untuk selama-lamanya dan pergi ke negeri Calidonia. Dokter Sukartono sedih dengan kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya dan mengabdi di sebuah panti asuhan yatim piatu.

(A)Adat dan kebiasaan yang bisa ditemukan pada novel "Belenggu" sebagai berikut.

1.Perceraian karena mempunyai kekasih gelap
 Tono tidak mencintai Istrinya sebab ketidak harmonisannya Keluarga.

2.Pertengkaran dalam rumah tangga sudah biasa karna masalah sepele
 Pertengkarang terjadi oleh Tono dengan Tini disebabkan oleh tidak ada pengertian sama sekali dari mereka berdua atau memecahkan masalah berdua.

3.Memiliki Pasangan yang cantik adalah idaman semua Pria
 Dokter Sukartono tidak mencintai Sumartini tetapi dia memilih Sumartini karna Kecantikannya.

(B)Etika moral yang dapat kita temukan pada novel "Belenggu" sebagai berikut.

1.Istri harus bisa mengerti Suaminya, begitu pula dengan Suami harus mengerti Istrinya
 Sebaiknya dalam kehidupan berumah tangga harus ada rasa saling menghormati satu sama lain agar tercipta rumah tangga yang harmonis.

2.Agar terwujud Hubungan yang harmonis si Sukartono dan Sumarti
 Seharusnya dalam kehidupan berumah tangga mereka harus disertai rasa cinta antar sesama.

3. Menjadi Istri yang dapat membahagiakan Suaminya
 Jadilah istri yang dapat membahagiakan suami dengan menunjukkan perilaku baik, menjalankan kewajiban sebagai seorang istri dengan cara melayani dan peduli dengan suami sesuai dengan haknya. Agar tidak terjadi perselingkuhan dan perceraian.

(C)Karater Tokoh yang bisa ditemukan pada novel "Belenggu" sebagai berikut.

-Dokter Sukartono (Tono):
Seorang dokter yang terkenal dengan dermawan dan penolong. Dia adalah dokter yang sangat mencintai pekerjaan. Akan tetepi dia tidak benar- benar mencintai istrinya. Dia selingkuh dengan wanita lain karena ketidakharmonisan hubungan rumah tangganya.

-Sumartini (Tini):
Seorang perempuan modern yang mempunyai masa lalu kelam karena bebas bergaul. Dia pernah merasakan hubungan yang pernah kandas dengan kekasihnya sebelum menikah dengan Tono. Tini seorang istri yang tidak begitu perduli dengan suaminya sehingga ia sering beradu mulut. Sosok yang kesepian dan merana karena sering ditinggal suaminya.

-Siti Rohayah:
Seorang wanita lembut dan penuh kasih sayang.. Suka berganti nama untuk menyembunyian identitasnya.

-Karno
Baik hati, patuh terhadap majikannya.

-Putri Aminah
Suka menggunjing tentang rumah tangga Tono dan Tini.

-Nyonya Rusdio
Baik hati, loyal

-Hartono
Baik hati, dia adalah mantan kekasih Tini yang ternyata adalah teman dekat Tono. Dulu semasa sekolah Hartono adalah tempat berbagi cerita dan keluh kesah Tono.

-Mangunsucipto (Paman Tini)
Baik hati, dewasa, sosok pembimbing dan penengah dalam rumah tangga Tono dan Tini.

(D). TEMA
Tema dalam novel Belenggu ini adalah rumah tangga yang tidak harmonis dan berujung pada perselingkuhan dan perceraian.




No comments:

Post a Comment